Dari mana sumber dan asal-usul kelompok yang gemar membid'ahkan sesama muslim ?

Rasulullah telah mengisahkan  tentang Najd yang merupakan tempat timbulnya fitnah:

Hadis riwayat Ibnu Umar RA " Nabi berdoa, 'Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.' Mereka berkata, Terhadap Najd kami.' Beliau berdoa, 'Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.' Mereka berkata, 'Dan Najd kami.' Beliau berdoa, 'Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.' Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, 'Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan'." (HR Bukhari)

 Hadis riwayat Ibnu Umar RA: Bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda sambil menghadap ke arah timur, " Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana. Yaitu tempat muncul tanduk setan." (Shahih Muslim No. 5167)

 Pada tahun 1115 H (1703 M) lahirlah seorang anak bernama Muhammad bin Abdul Wahab yang menjadi tokoh utama sumber lahirnya aliran wahabi

Aliran Wahabi ini dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman an-Najdi (1115 – 1206 H/1703 – 1792 M). Ia wafat diusia yang sangat tua, dengan umur 91 tahun. Sebelum bersekongkol dengan keluarga Saud dan Inggris untuk memberontak dari kekhalifahan Turki Ustmani, dia layaknya ustadz kampung yang tidak menonjol, biasa-biasa saja dan bahkan tidak diperhitungkan.

Pada tahun 1143 H, Muhammad bin Abdul Wahab mulai menampakkan dakwahnya terhadap aliran barunya itu, akan tetapi ayahnya, kakak kandungnya bersama para masyayikh dan guru-guru besar disana berdiri tegak menghalau kesesatannya. Mereka membongkar kebatilan ayahnya, sehingga dakwahnya tidak berlaku. Barulah ketika ayahnya wafat pada tahun 1153 H, ia mulai leluasa untuk kembali menebar dakwahnya. Atas kehadiran aliran sempalan ini, masyarakat Huraimila marah dan hampir-hampir membuat ia terbunuh. Kemudian ia melarikan diri ke kota ‘Uyainah. Disana ia merapat kepada penguasa kota tersebut untuk menikahi gadis dari salah seorang kerabatnya. Namun tidak lama kemudian, masyarakat Uyainah keberatan dengan ajakannya sehingga mengusirnya. Lalu ia pergi dan menuju Dir’iyah disebelah timur kota Najd — sebuah daerah yang dahulu didiami oleh para pengaku Nabi dan dari kota itu para murtadin berusaha menyerang kota Madinah sepeninggal Nabi SAW. Dikota tersebut, ia mendapat dukungan penuh dari amirnya yaitu Muhammad bin Sa’ud, sehingga warga masyarakat disana pun menyambut ajarannya dengan hangat. Saat itu, ia bertingkah seperti mujtahid agung. Ia tidak pernah menhiraukan pendapat para imam dan ulama’ terdahulu, maupun sejaman dengannya. 

Al-Imam Muhammad bin Humaid Al-Hanbali An-Najdi berkata:
“Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimi An-Najdi merupakan ayah dari orang yang membawa dakwah Wahhabiyah, Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.”[1] (As-Suhub Al-Wabilah ‘ala Dharaih Al-Hanabilah-halaman 275).

Muhammad Bin Abdul Wahab adalah orang yang dipandang tidak memiliki ilmu oleh para Ulama-ulama di masanya. Bahkan kakaknya sendiri, Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab menolak serta menyangkal atas penyimpangan dari apa yang telah menjadi pegangan kaum muslimin yang dilakukan oleh Muhammmad bin Abdul Wahab. Sanggahan-sanggahan Syaikh Sulaiman terhadap Muhammad bin Abdul Wahab diantaranya ditulis dalam dua buku, masing-masing “as-Showaiq al-Ilahiyyah fi Raddi ‘ala al-Wahabiyyah” serta “Fashl Khithob fi Raddi ‘ala Muhammad bin Abdul Wahab”.

Begitu pula ulama masyhur yang menjadi mufti Mekkah bermadzhab Hanbali, Syaikh Muhammad bin Humaid tidak pernah memasukan Muhammad bin Abdul Wahab dalam daftar para ahli ilmu dalam Madzhab Hanbali. Pedahal beliau telah merilis delapan ratus alim maupun alimah yang ada dalam Madzhab Hanbali kala itu. Namun ia memasukkan ayah Muhammad bin Abdul Wahab, yakni Syaikh Abdul Wahab sebagai sosok yang alim dan dipuji atas keilmuannya.


 Berawal dari lafadz  “Kullu”, Doktrin Wahabi Semua Bid’ah Sesat

 

Berawal dari lafadz kullu, semua bid’ah sesat, titik. Berangkat dari pemahaman kata kata ‘kullu’, doktrin Wahabi bersifat paten dan tidak mengenal nego.

Aliran wahabi dalam memahami hadits  kullu bid'atin dholalah wa kullu dholalatin finnaar adalah semua bid'ah sesat tanpa kecuali, ini menunjukkan bahwa dalam memahami maksud dari hadits hanya berdasarkan text(apa adanya tulisan) bukan berdasarkan kontext(maksud dari text).Padahal faktanya didalam Al-qur'an dan Hadits ada kalimat yang majazi(text yang maksudnya berbeda dengan wujud textnya).

Secara logika, seandainya paham mereka itu benar bahwa semua bid'ah adalah sesat dan semua masuk neraka, maka dapat dipastikan semua umat muslim setelah Rasulullah wafat akan masuk neraka, karena hampir semua umat muslim melakukan bid'ah. ini kan tidak masuk akal.

Contok:  Al-qur'an pada zaman Rasulullah belum dibukukan dan tidak ada titik dan harokat setelah Rasulullah tiada baru dijadikan mushab dan dilengkapi dengan titik dan harokat agar umat muslim mudah membacanya, maka membaca Al-qur'an seperti sekarang ini adalah melakukan bid'ah. Mengaji ilmu tajwid dan ilmu nahwu itu juga bi'ah karena pada zaman Rasulullah belum ada.Orang indonesia kalau mengeluarkan zakat dengan beras ini juga bid'ah karena pada zaman Rasulullah menggunakan kurma dan gandum, dan masih banyak contoh-contoh lainya yang faktanya mereka juga melakukanya.

Kaum Wahabi atau Salafi (sebagaimana klaim internal mereka) bagaikan virus akut yang menginfeksi kerangka tubuh umat Islam. Analogi Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahlussunnh Wal Jamaah, menyebut Wahabi ibarat penyakit menular akut yang wajib diamputasi sebelum menjalari tubuh lain. Artinya, paham ini perlu penanganan serius dari para ahlinya.

Kekhawatiran para ulama Aswaja mengenai tersebarnya paham keislaman yang baru muncul abad ke-18 ini didasari beberapa sebab. Di antaranya, gerakan yang berasaskan ekstrimisme dalam dakwah Islam yang muaranya berembrio pada doktrinasi ekslusif secara massif.

Menurut jumhur ulama Aswaja, doktrin demikian merupakan ketimpangan beragama yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Pasalnya, goal agama Islam adalah rahmatan lil alamin, tidak melakukan justifikasi subjektif yang muaranya memicu kebencian dan kerusakan. Doktrin Wahabi pada pengikutnya merupakan musibah besar yang dialami umat Islam. Dengan keberadaan mereka, Islam bukan lagi menjadi agama cinta kasih, tapi monster yang setiap saat mengintai dan mengganggu kerukunan sesama muslim.






 

 

 

 

 

 

Postingan Populer