Larangan debat kusir

Pengertian debat kusir menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah debat yang tidak disertai alasan yang masuk akal atau dapat dikatakan debat yang tidak berguna atau tidak ada kesimpulan akhir. Sedangkan debat memiliki arti pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing masing.

Asal muasal debat kusir

Pada masa lalu di manadelman masih menjadi transportasi, saat menunggu penumpang beberapa kusir(sais) atau orang yang mengemudikan delman (dokar, sado) sedang asyik ngobrol.Tiba tiba kuda salah satu delman kentut, dan pemiliknya langsung berkata,“Sepertinya kuda saya masuk angin.” Kusir lain menimpali ucapan pemilik kudatersebut, “Bukan masuk angin, tapi keluar angin.”

Pemilik kuda tetap padapendiriannya menganggap kudanya masuk angin. Namun kusir lain jugamempertahankan pendapatnya bahwa itu keluar angin. Dari perdebatan kusir yangmasing masing mempertahankan argumentasinya tanpa penjelasan yang jelas makaistilah debat kusir dipakai.

Saat naik delman, posisipenumpang ada di belakang kusir dan duduk menghadap ke samping. Sedangkan pakKusir duduk menghadap ke depan. Dari posisi ini saja sudah menimbulkan sudutpandang yang berbeda jika membicarakan sesuatu.

Penumpang akan mengatakanpemandangan bagus karena duduk menyamping sehingga dapat melihat pemandangansawah yang terhampar di pinggir jalan. Sedangkan kusir bisa saja menjawabpemandangan membosankan karena terus menatap jalan di depan.

Jika ini didebatkan terus menerus akan tidak menemukan titik temu, karena masing masing memiliki pandangan berbeda. Nah bagaimana Hukum Debat Kusir dalam Islam yang berhubungan dengan hukum debat dalam islam? berikut selengkapnya.

 

Debat kusir wajib dihindari

Maksud “dihindari” pada kalimat di atas adalah segera meninggalkan debat kusir tersebut. Dunia internet dan media sosial merupakan sarana yang mudah untuk berdebat sesuai dengan bahaya internet dalam islam. Perlu diketahui bahwa berdebat khususnya debat kusir sangat merugikan apabila kita lakukan. Terutama di media sosial, walaupun kita sudah berniat berdiskusi dengan baik akan tetapi diskusi di internet dan media sosial tetap sangat sulit dilakukan.

Mengalah dari debat kusir agar terhindar dari tanda Allah SWT berpaling dari hamba Nya, karena “kita tidak akan bisa menang debat melawan orang yang bodoh dan tidak beradab“. Mengalah dalam debat, sebagaimana sebuah ungkapan:  “Tidaklah aku mendebat orang bodoh, pasti aku akan kalah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً

“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian beliau membaca (ayat) :’Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja’”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42711-menjadi-sesat-karena-hobi-berdebat-kusir.html

 

Kerugian debat kusir

  • Membuang buang waktu yang berharga sebab terdapat larangan menyia nyiakan waktu. Waktu kita akan habis untuk berdebat kusir yang terkadang tidak ada ujungnya.
  • Mengeraskan hati karena sering sakit hati dan berniat membalas padahal terdapat bahaya dendam dalam islam. Padahal tujuan dakwah adalah menasihati dan yang namanya nasihat itu menghendaki kebaikan pada saudaranya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”.

  • Berdebat akan menimbulkan permusuhan di antarakaum muslimin, padahal kita diperintahkan agar menjadi saudara se iman.

Nabi Sulaiman ‘alaihissallam berkata kepada anaknya, “Wahaianakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu ragu danmenentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan diantara orang orang yang bersaudara.”

  • Mengalah yaitu meninggalkan debat (walaupunnanti akan dikira akan kalah) bukanlah kalah yang sesungguhnya.

Mengalah untuk menang, mundur selangkah (mengambil kuda kuda) untuk melompat jauh ke depan. itulah kemenangan bagi mereka yang berjiwa besar menghidari debat tidak berguna. Oleh karena itu mengalah dan meninggalkan perdebatan, pahalanya sangat besar.

Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allahakan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.”

  • Walaupun sebenarnya  kita bisa menang dalam berdebat akan tetapi, bisa jadi dia menolak kebenaran karena gengsi kalah,padahal dia mengakui kebenaran telah datang.
    Terkadang dakwah ditolak bukan karena materinya yang salah atau orang yang menyampaikan, tetapi cara dakwah yang tidak dapat diterima. Salah satunyaadalah dakwah dengan debat kusir yang tidak bermanfaat.

Sekali lagi dakwah ituuntuk kebaikan dan berniat kebaikan, perhatikan betapa tawadhu nya ImamSyafi’i, beliau berkata “Tidaklah aku mendebatseseorang melainkan dalam rangka memberi nasihat.”Beliau juga berkata, “Demi Allah, tidaklah aku mendebat seseorang melainkan berharap akulah yang keliru.”

Hindari debat kusir

Di era teknologi komunikasi yang modern ini dengan karakteristiknya yang mudah, praktis, cepat,dan menjangkau banyak orang arus informasi semakin deras. Media sosial adalah salah satu sarana yang paling banyak dipakai untuk menyebarkan berita, ilmu,opini, propaganda, dan sebagainya.

Di Facebook, Instagram,Whatsapp, dan sebagainya masyarakat diberi ruang untuk berkomentar tentangsuatu informasi dan saling menimpali satu sama lain antara yang pro dengan yangkontra. Keadaan ini membuka pintu perdebatan secara lebar.

 

Banyak yang terpancing untuk masuk ke dalamnya meski tak memiliki kapasitas dan otoritas demi mempertahankan dan membela sesuatu yang menurutnya benar atau sekadar unjukdiri serta hasrat mengalahkan dan menjatuhkan yang lain, tanpa peduli lawannyaitu adalah merupakan sesama keluarga, saudara, ataupun teman.Menurut Islam,debat diantara orang awam yang mana secara istilah disebut sebagai debat kusirini adalah merupakan suatu perbuatan yang tercela.

  • Pendapat ulama

Syaikh Muhammad al Ghazali dalam Khuluq al Muslim mengatakan bahwa Islam memandang suatu pembicaraan dapatterpelihara dari hawa nafsu serta kurangnya berpikir dan pertimbangan (terburu buru)adalah dengan adanya larangan berdebat.

Oleh karena itu, Islammenutup rapat rapat pintu perdebatan baik mengenai kebenaran ataupun kebatilan.Karena di dalam perdebatan terjadi sesuatu yang sangat menekan jiwa, mendorong perasaan untuk mengalahkan lawan bicara, dan membuat orang suka menyerang oranglain dengan berbagai macam perkataan.

  • Debat kusir hanya menginginkan kemenangan, bukankebenaran

Orang yang berdebat lebihmementingkan “kemenangan” daripada menunjukkan kebenaran. Watak gemar menentangdan mementingkan diri sendiri menonjol dalam bentuk yang sangat buruk, sehinggadalam perdebatan tidak ada tempat atau kesempatan untuk menjelaskan persoalanataupun ketenangan.

Menurut ulama produktifasal Mesir ini, Islam memerintahkan orang supaya menjauhkan diri dariperdebatan seperti itu, karena Islam memandangnya sebagai bahaya yang dapatmerusak keselamatan agama dan keutamaan budi pekerti.Rasul Saw. bersabda:

 

Barangsiapa meninggalkan perdebatan dalam keadaan keliru, dibuatkanrumah di pinggir surga, dan yang meninggalkan perdebatan dalam keadaan sebagaipihak yang benar dibuatkan rumah di tengah surga. Sedang yang berbudi pekertibaik dibuatkan rumah di surga bagian atas.” (Abu Dawud).

Guru dari Syaikh Yusuf al Qaradhawiini mewanti wanti juga mengenai kemampuan berbicara yang kadang kadang mendorong orang yang bersangkutan gemar berselisih atau bertengkar dengan orangyang berilmumaupun yang bodoh, sekadar menuruti selera nafsu mengejar kemenangan, mengalahkan lawannya,

dan tidak jemu jemunya berbuat seperti itu.Perdebatan yang menyangkut orang lain niscaya akanmelahirkan keburukan; bila menyangkut agama niscaya menodai kebagusan dan menghilangkan kewibawaannya.Islam sangat membenci orang orang yang cerewet danringan mulut seperti mereka itu.

  • Rasul saw. bersabda:

Orang yang paling tidak disukai Allah ialah orang yang paling kerasmelancarkan permusuhan.” (al Bukhari).

Beliau Saw. juga berkata:

Suatu kaum yang telah memperoleh hidayah tidak akan sesat kecualisetelah mereka terlibat dalam perdebatan.” (at Tirmidzi).

Katanya lagi, orang yangsuka melibatkan diri dalam perdebatan seperti itu lidahnya tidak mau berhentipada satu batas. Ia selalu ingin berbicara dan ingin terus menerus bersainguntuk membanggakan diri.

Hal pertama yang palingpenting baginya adalah kata kata, sedangkan makna dan artinya dinomorduakan.Sedangkan tujuan yang mulia mungkin sekali olehnya ditempatkan paling belakangan,atau barangkali yang terpenting baginya adalah berada di tengah tengah hiruk pikuknya perdebatan itu sendiri.

Adapun perdebatan hanya akan menyebabkan ketidakenakan, perselisihan,perkelahian, permusuhan, dan perpecahan antar sesama Muslim. Sesungguhnya, orang orang yang beriman itu adalah bersaudara, dilarang saling mencaci, saling berburuk sangka, saling menyakiti, dan saling menjatuhkan.

  • Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya orang orang beriman itu bersaudara.” (Surat al Hujurat10).

Oleh karena itu, seseorang mesti bijak dan menahan diri saat berhadapan dengan sesuatu yang bertentangan dengan pandangan pribadinya, tidak bersikap terlalu reaksioner, serta tidaktergesa gesa memvonis dan membantah. Jika ingin mendebat, ia mesti tahu diridengan mengukur kapasitasnya dan menghormati otoritas.

Perlu diketahui pula bahwa terdapat hal hal yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Banyak hal hal sepele yang tabiatnya memang pasti mengandung perbedaan persepsi dan asumsi sehingga bersikap keras dan intoleran dalam masalah tersebut serta memperlakukannya seolah perkara pokok yang prinsipil adalah merupakan kekeliruan sekaligus tidak beradab.

Kita pun perlu berlapang dada untuk mengalah meskipun kita benar jika sekiranya perdebatan terus dilanjutkan malah akan merusak hubungan persahabatan dan persaudaraan. Karena bagaimanapun para ulama terdahulu telah memberikan teladan bahwa persatuan lebih utama daripada sekadar menang adu argumen.

 

 

 

 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً

“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian beliau membaca (ayat) :’Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja’”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Mengapa bisa tersesat? Karena berdebat kusir yang mengeraskan hati dan meredupkan cahaya hidayah. Malik rahimahullah berkata,

الْمِرَاءُ فِي الْعِلْمِ يُقَسِّي الْقُلُوبَ وَيُوَرِّثُ الضَّغَائِنَ

“Berdebat dalam ilmu akan membuat keras hati dan mewariskan dendam.” (Mukhtashar Tarikh Dimasqa Hal 11)



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42711-menjadi-sesat-karena-hobi-berdebat-kusir.html

erdapat hadits yang menjelaskan bahwa seseorang yang dahulunya berada di atas hidayah bisa mejadi sesat karena sangat suka berdebat kusir yang tidak bermanfaat. Sangat disayangkan apabila seseorang sudah mendapatkan hidayah agama dan hidayah sunnah kemudian sangat hobi berdebat dan menjadi sesat karenanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً

“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian beliau membaca (ayat) :’Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja’”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Mengapa bisa tersesat? Karena berdebat kusir yang mengeraskan hati dan meredupkan cahaya hidayah. Malik rahimahullah berkata,

الْمِرَاءُ فِي الْعِلْمِ يُقَسِّي الْقُلُوبَ وَيُوَرِّثُ الضَّغَائِنَ

“Berdebat dalam ilmu akan membuat keras hati dan mewariskan dendam.” (Mukhtashar Tarikh Dimasqa Hal 11)

Berdebat juga bisa menjadikan seseorang menjadi sesat karena merupakan sebab Allah menginginkan keburukan pada seorang hamba.

Baca Juga: Pelajaran dari Perdebatan Memberikan Suara dalam Pemilu

Sebagian ulama berkata,

إذا أراد الله بعبد شراً أغلق عنه باب العمل وفتح له باب الجدل

“Apabila Allah menginginkan seorang hamba dengan keburukan, maka Ia akan menutup pintu amal dan membuka pintu perdebatan baginya.” (Al-Hilyah 8/361)

Berdebat juga menimbulkan permusuhan, padahal sesama kaum muslimin itu bersaudara. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berkata kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” (Syu’abul Iman: 8076 Al-Baihaqi)

Saudaraku.. hindari debat kusir yang tidak bermanfaat walaupun kita menang.

Bisa jadi dia menolak kebenaran karena gengsi kalah padahal dia mengakui kebenaran telah datang. Mengalah untuk menang, mundur selangkah (mengambil kuda-kuda) untuk melompat jauh ke depan. itulah kemenangan bagi mereka yang berjiwa besar menghidari debat tidak berguna

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” (Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138)



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42711-menjadi-sesat-karena-hobi-berdebat-kusir.html

erdapat hadits yang menjelaskan bahwa seseorang yang dahulunya berada di atas hidayah bisa mejadi sesat karena sangat suka berdebat kusir yang tidak bermanfaat. Sangat disayangkan apabila seseorang sudah mendapatkan hidayah agama dan hidayah sunnah kemudian sangat hobi berdebat dan menjadi sesat karenanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً

“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian beliau membaca (ayat) :’Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja’”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Mengapa bisa tersesat? Karena berdebat kusir yang mengeraskan hati dan meredupkan cahaya hidayah. Malik rahimahullah berkata,

الْمِرَاءُ فِي الْعِلْمِ يُقَسِّي الْقُلُوبَ وَيُوَرِّثُ الضَّغَائِنَ

“Berdebat dalam ilmu akan membuat keras hati dan mewariskan dendam.” (Mukhtashar Tarikh Dimasqa Hal 11)

Berdebat juga bisa menjadikan seseorang menjadi sesat karena merupakan sebab Allah menginginkan keburukan pada seorang hamba.

Baca Juga: Pelajaran dari Perdebatan Memberikan Suara dalam Pemilu

Sebagian ulama berkata,

إذا أراد الله بعبد شراً أغلق عنه باب العمل وفتح له باب الجدل

“Apabila Allah menginginkan seorang hamba dengan keburukan, maka Ia akan menutup pintu amal dan membuka pintu perdebatan baginya.” (Al-Hilyah 8/361)

Berdebat juga menimbulkan permusuhan, padahal sesama kaum muslimin itu bersaudara. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berkata kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” (Syu’abul Iman: 8076 Al-Baihaqi)

Saudaraku.. hindari debat kusir yang tidak bermanfaat walaupun kita menang.

Bisa jadi dia menolak kebenaran karena gengsi kalah padahal dia mengakui kebenaran telah datang. Mengalah untuk menang, mundur selangkah (mengambil kuda-kuda) untuk melompat jauh ke depan. itulah kemenangan bagi mereka yang berjiwa besar menghidari debat tidak berguna

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” (Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138)



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42711-menjadi-sesat-karena-hobi-berdebat-kusir.html

erdapat hadits yang menjelaskan bahwa seseorang yang dahulunya berada di atas hidayah bisa mejadi sesat karena sangat suka berdebat kusir yang tidak bermanfaat. Sangat disayangkan apabila seseorang sudah mendapatkan hidayah agama dan hidayah sunnah kemudian sangat hobi berdebat dan menjadi sesat karenanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً

“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian beliau membaca (ayat) :’Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja’”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Mengapa bisa tersesat? Karena berdebat kusir yang mengeraskan hati dan meredupkan cahaya hidayah. Malik rahimahullah berkata,

الْمِرَاءُ فِي الْعِلْمِ يُقَسِّي الْقُلُوبَ وَيُوَرِّثُ الضَّغَائِنَ

“Berdebat dalam ilmu akan membuat keras hati dan mewariskan dendam.” (Mukhtashar Tarikh Dimasqa Hal 11)

Berdebat juga bisa menjadikan seseorang menjadi sesat karena merupakan sebab Allah menginginkan keburukan pada seorang hamba.

Baca Juga: Pelajaran dari Perdebatan Memberikan Suara dalam Pemilu

Sebagian ulama berkata,

إذا أراد الله بعبد شراً أغلق عنه باب العمل وفتح له باب الجدل

“Apabila Allah menginginkan seorang hamba dengan keburukan, maka Ia akan menutup pintu amal dan membuka pintu perdebatan baginya.” (Al-Hilyah 8/361)

Berdebat juga menimbulkan permusuhan, padahal sesama kaum muslimin itu bersaudara. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berkata kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” (Syu’abul Iman: 8076 Al-Baihaqi)

Saudaraku.. hindari debat kusir yang tidak bermanfaat walaupun kita menang.

Bisa jadi dia menolak kebenaran karena gengsi kalah padahal dia mengakui kebenaran telah datang. Mengalah untuk menang, mundur selangkah (mengambil kuda-kuda) untuk melompat jauh ke depan. itulah kemenangan bagi mereka yang berjiwa besar menghidari debat tidak berguna

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” (Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138)



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/42711-menjadi-sesat-karena-hobi-berdebat-kusir.html

Komentar

Postingan Populer