Makna Sunnah Hasanah dan Sunnah Sayyi’ah dalam Sabda Rasulullah

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَ مَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَ وِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. (رواه البخارى و مسلم)

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/113178/makna-sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyi-ah-dalam-sabda-rasulullah
===
Yuk, install NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain.

“Barangsiapa mengadakan sesuatu sunnah (jalan) yang baik, maka baginya pahala sunnah dan pahala orang lain yang mengerjakannya hingga akhir kiamat. Dan barangsiapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga akhir kiamat.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Menurut pendapat dari kalangan salafi wahabi yaitu kelompok yang gemar menyalahkan sesama muslim :
1. maksud perkataan Rasulullah "Man sanna fi Islami sunnatan hasanataan" tidak lain adalah mengamalkan apa yang sudah ada dasarnya dari Sunnah Nabi Shallallohu 'Alaihi Wasallam. Asbabul wurud hadits tersebut berkenaan dengan urusan shadaqah yang telah disyari'atkan

2. kata-kata "man sanna" bisa diartikan pula : "Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah", yang telah ditinggalkan dan pernah ada sebelumnya. Jadi kata "sanna" tidak berarti membuat sunnah dari dirinya sendiri, melainkan menghidupkan kembali suatu sunnah yang ditinggalkan.

3. Ada pula mereka mensarikan dari buku "Al Ibdaa' fi kamaalisy wa khataril ibtidaa' edisi Indonesia "Kesempurnaan Islam dan bahaya bid'ah karya Ulama Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin bahwa arti "sanna" ialah : melaksanakan (mengerjakan) bukan berarti membuat (mengadakan) suatu sunnah. Jadi arti dari sabda beliau: "Man sanna fil Islaami Sunatan hasanatan" , yaitu : 'Barangsiapa melaksanakan sunnah yang baik" , bukan membuat atau mengadakannya, karena yang demikian itu dilarang bersabdakan sabda beliau shallallahu alaihi wasallam :"Kullu bid'atin dholalah"

----------------------------------------------------------------------------

Selanjutnya
Urusan shadaqah memang sudah disyariatkan namun dalam hadits tersebut disampaikan bahwa ada seorang Sahabat Nabi yang mencontohkan atau memulai untuk bersedekah sesuatu yang dibungkus dengan daun dan kemudian diikuti oleh beberapa orang sahabat lainnya

Kata sunnah dalam sunnah hasanah dan sunnah sayyiah bukan berarti sunnah Rasulullah karena tidak ada sunnah Rasulullah yang sayyiah (jelek).

Kata sunnah dalam sunnah hasanah dan sunnah sayyiah artinya contoh atau suri tauladan atau perkara kebiasaan yang tidak dilakukan oleh orang lain sebelumnya atau perkara baru (bid’ah) dalam kebiasaan (adat)

Dalam Syarhu Sunan Ibnu Majah lil Imam As Sindi 1/90 menjelaskan bahwa “Yang membedakan antara sunnah hasanah dengan sayyiah adalah adanya kesesuaian atau tidak dengan pokok-pokok syar’i “ maksudnya perbedaan antara sunnah hasanah dengan sayyiah adalah tidak bertentangan atau bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits

Sunnah Hasanah (baik) adalah contoh, suri tauladan, perkara baru (bid’ah) dalam perkara kebiasaan (adat) yang tidak menyalahi satupun laranganNya atau tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits

Sunnah Sayyiah (buruk) adalah contoh, suri tauladan, perkara baru (bid’ah) dalam perkara kebiasaan (adat) yang menyalahi laranganNya atau bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits. Oleh karena bertentangan dengan Al Qur'an dan Hadits maka termasuk perkara terkait dengan dosa sehingga termasuk bid'ah dholalah

Jadi bid'ah dholalah adalah bid'ah dalam urusan agama (urusan kami) dan sunnah sayyiah

Ibn Hajar al-’Asqalani dalam kitab Fath al-Bari menuliskan sebagai berikut:

وَالتَّحْقِيْقُ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَحْسَنٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ حَسَنَةٌ، وَإِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَقْبَحٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ مُسْتَقْبَحَةٌ.

“Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi’ah menurut tahqiq para ulama adalah bahwa jika perkara baru tersebut masuk dan tergolong kepada hal yang baik dalam syara’ berarti termasuk bid’ah hasanah, dan jika tergolong hal yang buruk dalam syara’ berarti termasuk bid’ah yang buruk” (Fath al-Bari, j. 4, hlm. 253).

Berikut pendapat Imam Syafi’i ra

قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )

Artinya ; Imam Syafi’i ra berkata –Segala hal (kebiasaan) yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan menyalahi (bertentangan) dengan pedoman Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid’ah dholalah). Dan segala kebiasaan yang baik (kebaikan) yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak menyelahi (bertentangan) dengan pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji (bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313)

Contoh bid’ah hasanah atau perkara baru (bid’ah) dalam perkara kebiasaan (adat) yang paling terkenal adalah peringatan Maulid Nabi.

Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi): “merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam“.

Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah, dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam”

Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.

Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

Peringatan Maulid Nabi dapat kita pergunakan untuk intropeksi diri sejauh mana kita telah meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bagi kehidupan kita hari ini maupun esok. Begitupula memperingati hari kelahiran diri sendiri dapat kita pergunakan untuk intropeksi diri sejauh mana kita mempersiapkan diri bagi kehidupan di akhirat kelak adalah bukan perkara dosa atau terlarang.


Banyak orang yang mengenal istilah bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Istilah ini populer di empat mazhab fiqih yang ada dan dipopulerkan oleh para tokoh mazhab. Namun, kedua istilah ini tak pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad sehingga ada saja segelintir orang yang keberatan dengan istilah ini. Sejatinya, ada istilah lain yang mirip yang justru diperkenalkan oleh Nabi Muhammad sendiri, yakni

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/113178/makna-sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyi-ah-dalam-sabda-rasulullah
===
Yuk, install NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain.
Dalam hadits Nabi yang shahih disebutkan: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ “Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim)

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/113178/makna-sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyi-ah-dalam-sabda-rasulullah
===
Yuk, install NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain.
Istilah sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah ini lebih layak dipakai sehari-hari daripada istilah bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, meskipun istilah terakhir ini juga benar. Namun istilah sunnah hasanah dan sayyi’ah adalah istilah yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW secara langsung, sedangkan istilah bid’ah hasanah dan sayyi’ah tak pernah diucapkan Nabi sehingga sebagian orang yang sangat awam kadang keberatan dengan istilah ini.

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/113178/makna-sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyi-ah-dalam-sabda-rasulullah
===
Yuk, install NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain.
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Sekretaris PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center Jawa Timur

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/113178/makna-sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyi-ah-dalam-sabda-rasulullah
===
Yuk, install NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain.
Banyak orang yang mengenal istilah bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Istilah ini populer di empat mazhab fiqih yang ada dan dipopulerkan oleh para tokoh mazhab. Namun, kedua istilah ini tak pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad sehingga ada saja segelintir orang yang keberatan dengan istilah ini. Sejatinya, ada istilah lain yang mirip yang justru diperkenalkan oleh Nabi Muhammad sendiri, yakni istilah sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah. Kali ini akan dibahas kedua istilah ini agar kaum Muslimin memahami istilah yang digunakan oleh Rasulullah dengan lebih baik. Dalam hadits Nabi yang shahih disebutkan: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ “Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR Muslim). Dalam hadits tersebut jelas sekali Nabi Muhammad membagi kata sunnah menjadi dua versi, yakni versi hasanah (baik) dan versi sayyi’ah (buruk). Tapi apa makna sunnah di sini? Sebagian orang yang mengaku salaf mengartikan sunnah di sini sebagai hal yang memang sudah disyariatkan dengan tegas oleh Nabi Muhammad sebelumnya, tetapi tak dipraktikkan. Menghidupkan kembali sunnah yang terabaikan ini dianggap membuat sunnah hasanah (sanna sunnatan hasanah). Contoh yang diajukan kelompok ini adalah sedekah dan tarawih berjamaah. Keduanya diajarkan Nabi tetapi sempat ditinggalkan sehingga dianjurkan kembali belakangan. Bila tak teliti, memang sepertinya tak ada masalah dengan makna ini, padahal makna ini salah besar dengan dua alasan sebagai berikut: Pertama, sunnah dalam artian tersebut tidak bisa dibagi menjadi hasanah dan sayyi’ah. Pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh kelompok pendaku salaf ini adalah: Bila sunnah diartikan sebagai ajaran yang sudah ditegaskan oleh Nabi Muhammad, maka bagaimana bisa ada versi baik dan versi buruknya? Apakah pernah Nabi mengajarkan sunnah yang buruk yang kemudian tak dipraktikkan lalu ada yang menghidupkannya kembali sehingga berdosa? Tampaknya tak ada kelompok pendaku salaf yang menjelaskan perihal sunnah sayyi’ah ini dengan penjelasan memadai sebab memang akan kontradiktif dengan definisinya sendiri. Bahkan, mengatakan ada sunnah sayyi’ah (dalam arti ajaran Nabi yang buruk) adalah penghinaan besar kepada Rasulullah sehingga tak mungkin ada Muslim yang berani mengatakan itu. Lalu apa makna sunnah dalam konteks yang dibagi dua ini? Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan istilah “sanna sunnah hasanah” sebagai memulai kebaikan (al-ibtida’ bil-khairat) sedangkan “sanna sunnah sayyi’ah” sebagai memulai/membuat-buat berbagai kebatilan dan keburukan (ikhtira’ al-abathil wal-mustaqbahat). Hal ini berarti kata sunnah di situ bukanlah sunnah Rasulullah seperti yang disangka kelompok di atas, tetapi adalah hal baru secara umum yang memang adakalanya baik dan adakalanya buruk (An-Nawawi, Syarh Muslim, Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, juz VII, halaman 104). Di bagian lain di kitab yang sama, An-Nawawi menjelaskan sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah ini dengan redaksi membuat bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Ia berkata: أَنَّ كُلَّ مَنِ ابْتَدَعَ شَيْئًا مِنَ الشَّرِّ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ كُلِّ مَنِ اقْتَدَى بِهِ فِي ذَلِكَ الْعَمَلِ مِثْلَ عَمَلِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمِثْلُهُ من ابتدع شيأ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ كُلِّ مَنْ يَعْمَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُوَ مُوَافِقٌ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً “Bahwasanya setiap orang yang membuat bid’ah (hal baru) yang buruk, maka ia mendapat semisal dosa orang yang mengikutinya dalam perbuatan itu hingga hari kiamat. Begitu juga orang yang membuat bid’ah (hal baru) yang baik, maka ia mendapat semisal pahala orang yang mengikutinya dalam perbuatan itu hingga hari kiamat. Ini sesuai dengan hadits sahih “siapa yang membuat sunnah hasanah...” (An-Nawawi, Syarh Muslim, Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, juz XI, halaman 166). Baca juga: Jawaban Metodologis untuk Orang yang Gemar Menvonis Bid’ah Dengan pengertian seperti ini, maka istilah sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah dalam hadits di atas tidak kontradiktif dan bisa menjadi penjelasan mendetail bagi hadits tentang bid’ah. An-Nawawi mengatakan: وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ تَخْصِيصُ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُومَةُ “Dalam hadits ini ada pembatasan makna sabda Rasulullah ‘semua hal baru adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat’ dan bahwasanya yang dimaksud di sana adalah hal baru yang batil dan bid’ah yang buruk saja” (An-Nawawi, Syarh Muslim, Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, juz VII, halaman 104). Kedua, hadits tersebut memakai redaksi “man sanna sunnatan” dalam arti “siapa pun yang membuat sunnah”. Sudah jelas kata sunnah di sini bukanlah dalam makna sunnah Rasulullah sebab sunnah Rasulullah hanya dibuat oleh Rasulullah saja, tak bisa dibuat oleh siapa pun. Sunnah yang bisa dibuat oleh siapa saja adalah sunnah dalam arti bahasa, yakni segala hal baru secara umum. Ini mencakup hal yang betul-betul baru pertama kali terjadi seperti di dalam kasus pembunuhan oleh Qabil dalam hadits berikut: لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا وَذَلِكَ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ القَتْلَ “Tidaklah suatu jiwa dibunuh secara zalim kecuali putra Adam yang pertama (Qabil) mendapat bagian dosanya sebab dialah yang pertama membuat sunnah pembunuhan” (HR Bukhari). Sunnah berupa pembunuhan di masa Qabil adalah peristiwa yang tak pernah terjadi sebelumnya. Qabil-lah manusia pertama yang melakukannya sehingga ia dianggap membuat sunnah berupa pembunuhan. Pembunuhan adalah sebuah sunnah sayyi’ah yang dosanya terus mengalir bagi Qabil. Dalam versi sunnah hasanah atau yang baik, contohnya adalah peringatan maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan setiap tahun. Peringatan semacam ini betul-betul baru sebab tak dikenal sebelumnya di masa salaf, tetapi ia tergolong baik sebab masuk kategori hal yang sesuai dengan kaidah syariat. Imam Abu Syamah al-Maqdisi berkata: وَمن أحسن مَا ابتدع فِي زَمَاننَا من هَذَا الْقَبِيل مَا كَانَ يفعل بِمَدِينَة اربل جبرها الله تَعَالَى كل عَام فِي الْيَوْم الْمُوَافق ليَوْم مولد النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من الصَّدقَات وَالْمَعْرُوف واظهار الزِّينَة وَالسُّرُور “Hal baru yang terbaik (ahsan) dalam kategori ini adalah apa yang dilakukan di kota Irbil, semoga Allah menambalnya dengan kebaikan, pada setiap tahun di hari yang bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang berupa sedekah, kebaikan, dan menampakkan perhiasan dan kebahagiaan” (Abu Syamah, al-Baits ‘ala inkar al-Bida’ wal-Hawadits, 23). Bisa juga sunnah berupa hal yang tak sepenuhnya baru sebab sudah dikenal sebelumnya tetapi kemudian tak dilakukan. Contoh versi hasanahnya adalah memulai memberi contoh dalam sedekah sehingga diikuti orang banyak, melakukan tarawih berjamaah sebulan penuh, dan lain sebagainya yang secara khusus sudah dikenal di masa Nabi sebagai kebaikan. Adapun contoh versi sayyi’ahnya adalah mengawali praktik perjudian atau pesta miras di wilayah yang sebelumnya steril dari perbuatan itu. Ini tergolong menghidupkan kembali sunnah sayyi’ah yang telah dikenal sejak dulu. Kesimpulannya, istilah sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah adalah istilah yang merujuk pada hal baru yang dilakukan orang-orang secara umum. Bila hal baru tersebut masuk kategori baik, maka disebut sunnah hasanah. Bila masuk kategori buruk, maka disebut sunnah sayyi’ah. Istilah sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah ini lebih layak dipakai sehari-hari daripada istilah bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, meskipun istilah terakhir ini juga benar. Namun istilah sunnah hasanah dan sayyi’ah adalah istilah yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW secara langsung, sedangkan istilah bid’ah hasanah dan sayyi’ah tak pernah diucapkan Nabi sehingga sebagian orang yang sangat awam kadang keberatan dengan istilah ini.

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/113178/makna-sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyi-ah-dalam-sabda-rasulullah
===
Yuk, install NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain.

Postingan Populer